Barisan Kata Bermakna Menuju Garis Lini Kebaikan

Sepucuk surat terbungkus amplop putih sederhana dari Bunda yang berisi ribuan kata-kata bermakna kasih sayang akhirnya sampai di hadapku empat hari menjelang Bulan Suci Ramadhan 1431 H. Surat yang begitu sederhana namun mampu berbicara apa adanya. Aku sadar surat itu dibuat di sela-sela kesibukan beliau. Aneh juga mungkin bagi sebagian sahabatku yang ku ceritakan tentang hal surat-menyurat, namun aku tersenyum saja. Mereka sedikit bisa ku tebak, berpikir via SMS atau telepon bisa saja tidak perlu repot menulis surat, apalagi saat ini teknologi komunikasi mau seperti apa. Sebelum Aku di sini Bunda, tak pernah setengah hati untuk kebaikan. Lebaran di kampung halaman tempat ku dibesarkan Kelayu dan Kembang Sari membuatku selalu rindu dengan suasana masyarakatnya terutama di bulan Ramadhan dan Hari Besar Islam lainnya. Masakan buatan Bunda dan Nenek yang bernama Urap-Urap ditambah Pelecing Kangkung, Sayur Kelentang dan Sayur Pepaya disantap ramai-ramai dengan para keluarga dan tetanggaku yang datang bersilaturahmi semakin kuat menarik aku untuk pulang. Aku berusaha berpaling tapi itulah yang terjadi.

“Nak, Bunda mendo’akan dan percaya engkau akan baik-baik di sana sehingga hatimu hanya untuk berbuat baik untuk sesama walaupun apa yang engkau dapatkan kadang terbalik, tetaplah tersenyum ingat akan kebaikan yang membuatmu lebih baik dari yang kau duga.”

Karena surat itu, aku teringat pernah beberapa kali berkirim surat untuk menyampaikan rasa hormat dan perasaan yang ku hadapi pada orang-orang yang aku anggap luar biasa dan melintas di kehidupan ku ini, ada yang jauh dan ada yang dekat kediamannya, tapi alhamdulillah tidak pernah telat sampai. Aku hanya kadang suka mencoba formal saja, karena mungkin kalau berkata-kata kadang aku kurang, kadang juga dipandang terlalu serius, kadang kurang nyambung sampai melihat ekspresi dadakan mereka, tapi banyak juga sahabat yang menganggap aku begitu nyambung sampai senang bercanda. Ya, aku tersenyum dan sangat menerima semua itu, aku berpandangan tetap biarlah orang yang menilai, aku tidak perlu melebih-lebihkan diriku karena aku percaya mata penilaian orang mampu menembus apa yang ada. Kadang sambil tersenyum berkesan juga mengingat semuanya. Aku bahagia dengan apa yang aku lakukan terutama bersama mereka para sahabatku, tanpa mereka mungkin ceritanya lain. Keadaan itu sangat ku pertahankan karena sadar aku tak akan mampu membeli kebahagiaan, walaupun beberapa orang yang memiliki kekayaan mampu membeli kesenangan dunia yang aku tidak pernah mampu.

Saat ini aku berusaha tidak memikirkan masa lalu dan tidak mencemaskan masa depan. Karena aku sadar tidak bisa kembali ke masa lalu untuk membatalkan apa yang telah terjadi begitu juga aku tidak bisa menghindari apa yang akan terjadi di kemudian hari. Menurutku saat inilah kehidupanku yang sesungguhnya. Kekuatan dalam membangun kesuksesan ada pada saat ini, bukan pada saat berikutnya dan sebelumnya. Aku merasakan bahagia menjalani dan mengerjakan apa yang dapat ku jalani dan kerjakan saat ini. Aku yakin setiap dari kita bila telah melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya pada saat ini, maka tidak ada alasan lagi untuk menyesali masa lalu dan memikirkan masa depan, semua dimulai saat ini. Barisan kata-kata beliau akan kebaikan di dalam surat itu selalu akan teringat oleh ku…

Advertisements

Leave a reply please ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s