H-4H+6=0

H-4H+6=0H-4H+6=0 bukanlah persamaan atau rumus buat nyelesain hitungan tertentu tapi tentang mudik dan arus balik yang akhirnya batal karena harus nyelesain tanggungjawab yang ada. Kisahnya berawal dari rencana mudik 6 Agustus 2010 bareng para sahabat satu daerah dan ikut arus balik 16 September 2010. Walaupun batal tahun ini, aku tetep bakal jalani hari-hariku yang penuh warna. Sebelumnya Bunda sempet berkirim surat ngasi izin akan hal ini, para sahabat pun sempet menghubungi beberapa kali alhamdulillah mereka sehat wal afiat dan tetep ngasi semangat tak terhingga. Begitupun di sini, saat ini aku tinggal di lingkungan yang sudah terasa seperti kampungku sendiri dengan sekelumit kisah tersendiri di setiap hari-hariku.

Memang mudik itu udah jadi fenomena sosial di negara kita tercinta Indonesia ini. Fenomena mudik ini bakal tak akan hilang walaupun teknologi sedemikian berkembang dan semakin praktis pula, menurut hasil prediksi beberapa Sosiolog nih, ini disebabkan kalau kini mudik tuh berkembang bukan hanya sekedar fenomena sosial lagi, melainkan udah jadi kebutuhan bukan sekedar keinginan (need not want) sebagian masyarakat terlebih pada saat menghadapi hari-hari besar agama. Wah kalau begitu ada benernya juga. Walaupun kaki and tangan pekor kejepit (kalau pake sepur or bus yang super padet banget), barang bawaan sempet ketuker, oleh-oleh semampunya (kayak ngasi sumbangan aje) sampe masalah dana alias budget yang kadang pas-pasan. Tapi tetep aje semangat membara ngga bakalan padam buat ngumpul bareng sanak keluarga dan ketemu para sahabat tersayang di kampung halaman tercinta.

Setiap orang yang pernah ngelakuin mudik pasti punya cerita dan kesan tersendiri. Lebaran tahun lalu (2009) aku pernah berkesempatan (walaupun cuma tujuh hari) mudik dan bersua dengan orang-orang tercinta, aku sangat bersyukur sekali dapet kesempatan itu. Banyak moment indah saat itu yang masih terasa sampai hari ini. Mulai dari bersua bertukar kisah dengan seorang sahabat kecilku tercinta yang kini tinggal di Mataram (semoga silaturahmi kita tetep lestari, amien), anak-anak tetangga yang dulunya masih kecil imut (saat aku baru jadi mahasiswa) eh udah pada gede semua, bolak-balik ke rumah para sanak keluarga (banyak yang ngundang ceritanya), dan pamungkasnya adalah pada malam hari sebelum meluncur ke arus balik Bunda dan Keluarga ngasi surprise (siangnya Bunda masak dan nyiapin semuanya, saat itu aku masih di kediaman nenek dan bibi untuk pamit sampe ba’da maghrib).

Sesampai di rumah langsung mandi, eh kok kedengeran ada orang-orang pada rame di luar ya? Bunda ngetuk pintu kamar nyuruh ganti pakaian agak cepet karena udah di tunggu di lantai atas. Eh pas naik langsung disambut senyuman dari wajah-wajah yang ngga asing lagi, wow para sahabatku yang aktif di masjid sekaligus para sahabat main di kampung plus anak-anak tetangga (sekitar 25 orang lah) pada dateng buat do’a bareng di rumah sederhana kami ba’da isya, alangkah terkejut sekaligus terharunya aku. Dalam hati kecilku berbisik “Alhamdulillah ya Rabb, semoga ini bukan perpisahan dengan semuanya yang ada di sini, melainkan akan menjadi awal yang baik menuju kebaikan ke depannya. Semoga semua yang berada di sini tetap bahagia, amien ya Rabb.

Yah itulah sepenggal kisah mudikku tahun lalu, sangat berkesan bagiku sampai hari ini. Tidak salah John Howard Payne bersenandung pada lagunya yang begitu terkenal, “Di tengah kemewahan dan istana-istana, ke mana pun kita mengembara, sekalipun amat sederhana, tiada tempat yang lebih indah daripada rumah kita sendiri (home sweet home).”

Advertisements

2 thoughts on “H-4H+6=0

Leave a reply please ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s