Dua Wadah Satu Pembersih Satu Isi : Pelajaran Berharga di Kampung English

Hampir genap selama 30 hari pada beberapa waktu yang lalu aku pernah course di Kampung English Pare yang terletak di Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Kampung ini sederhana memang, tapi sangat luar biasa karena tempat belajar english yang begitu menjamur dan menggunakan sistem beragam ditambah dengan penduduk yang ramah pula. Selama belajar disana banyak sahabat baru yang aku kenal mulai dari sahabat satu tempat tinggal (kost), sahabat satu course sampai beberapa pengajarku. Mereka aku lihat begitu antusias dan masing-masing memiliki tujuan belajar sampai singgah untuk memilih di Pare. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah. Yeah di kost dan kelas aku merasakan kesan baik karena bisa berkenalan dengan mereka satu per satu.

Hal yang unik disana hampir semua teman satu kost dan di kelas course menggunakan sepeda sebagai alat transportasi dalam keseharian mereka, begitu pun aku. Pernah satu hari setelah selesai mengikuti jam pertama course aku menemukan roda belakang sepedaku terkunci dan parahnya kunci untuk bagian tersebut memang sudah tidak bisa dipakai kembali. Aku tidak tahu sebelumnya apakah ada yang memang sengaja atau jangan-jangan senang dengan sepedaku ya..ya..ya..dibawa santai ujarku, tidak apa ini hanya sepeda yang penting bukan manusianya yang terkunci hatinya hehehe. Yeah hari itu akhirnya aku menggandeng sepeda ke bengkel langgananku dengan roda belakang yang terkunci rapat, hmm…lucu juga bila diingat tapi pelajaran berharga bagiku bagaimana tidak di bengkel malah aku semakin akrab dengan bapak pemilik bengkel, beliau sesekali bertanya tentangku dan bercerita akan pengalaman-pengalamannya dangan sangat ramah kepadaku dan kepada setiap orang yang singgah disana. Yeah beliau seorang pejuang hidup yang menafkahi keluarganya dari sebuah bengkel sepeda sederhana.

Ada juga bapak tukang pembuat meja kayu yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Setiap lewat dari sana dengan ramahnya beliau menyapa, aku pun sesekali berkunjung kesana saat course libur. Belakangan aku mengetahui bahwa beliau juga adalah takmir dan muadzin tetap di masjid yang tidak jauh dari tempat course-ku, aku belajar dari melihat semangat beliau yang begitu besar betapa tidak walaupun hasil karyanya belum ada yang laku dalam beberapa hari beliau tetap sabar dan tidak pernah menggerutu terlebih mengeluh. Terakhir pelajaran yang berharga aku dapatkan dari pengajarku di private course program yang menjalani hari-harinya juga sebagai seorang ‘life fighter’ pengajar di course namun di samping itu sebagai guru tanpa honor bagi anak-anak SD di kampung beliau tinggal, setiap akhir pekan beliau harus mudik untuk mengajar disana. Yeah aku merasakan sebelumnya karena di saat jeda belajar kami kadang sharing tentang keseharian masing-masing. Beliau berbagi cerita akan pahit manis perjalanan yang beliau rasakan hingga sampai saat aku belajar disitu. Yeah dari mereka aku mendapat pelajaran bahawasanya aku akan malu menjadi pemuda yang tidak punya disiplin dan prioritas yang jelas, aku malu berilmu tanpa berbagi, aku malu berjanji tapi tidak menepati, dan setidaknya aku pun akan malu menyatakan cinta tanpa pengertian dan pengorbanan hehehe (bersambung).

Advertisements

4 thoughts on “Dua Wadah Satu Pembersih Satu Isi : Pelajaran Berharga di Kampung English

Leave a reply please ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s