Telos Aristoteles

Pendapat-pendapat mengenai arti hidup (dan mungkin arti cinta) yang kita temukan telah berlipat ganda secepat arti hidup, yang pada gilirannya telah berlipat ganda secepat para filsufnya. Begitupun kebahagiaan yang menjadi telos (τέλος) hidup manusia selalu menjadi pokok perdebatan para filsuf sepanjang sejarah.

Menurut Aristoteles, segala sesuatu memiliki telos yang merupakan tujuan internal yang harus dicapainya. Di sini kita ambil contoh yakni biji durian yang memiliki telos pohon durian. Pohon durian itulah yang menjadi “tujuan yang dimaksudkan.” Lebah mempunyai telos, bahkan kacang pun memiliki telos. Telos tidak lain adalah bagian dari struktur mendalam kenyataan. Kalau masih abstrak, mari kita lihat ilustrasi berikut ini :

Seorang Kakek berjalan bersama tiga orang cucu kesayangannya menyusuri taman kota pada sore hari. Tiba-tiba seorang sahabat si kakek tersebut menghampiri dan bertanya

“Berapa usia ketiga cucumu itu kawan?”

Kakek itu pun menjawab,

“Yang dokter enam tahun, yang profesor lima tahun, dan yang presiden delapan tahun.”

Terdapat perbedaan memang antara telos kehidupan. Dimaksudkan untuk apakah manusia itu dan tujuan-tujuan khusus seseorang di dalam hidup. Dia ingin menjadi apa, serta apa menjadi apa.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah hidup kita sebagai manusia memiliki telos? Pertanyaan tersebut silakan kita jawab masing-masing.

Telos cocok dengan gagasan Aristoteles tentang kehidupan etis, untuk memiliki kehidupan etis atau yang biasa kita sebut “happy life,” menurutnya dibutuhkan moral dan intelektualitas. Untuk memiliki keduanya, dibutuhkan pula pengetahuan yang merupakan kemampuan manusia tertinggi dan mengarah kembali ke telos.

Aristoteles berpendapat bahwa telos hidup manusia adalah kebahagiaan. Kehidupan yang baik adalah hidup dalam kebahagiaan, saya rasa setiap manusia akan mendambakan ini, siapa yang tidak ingin bahagia dalam hidup ini?

Aristoteles mengatakan kehidupan seperti itu dapat dicapai dengan keunggulan (arête) pada dua wilayah utama yaitu intelektualitas dan moral tadi.

Keutamaan moral tidak dapat diajarkan, hanya dapat dipelajari dari pengalaman. Hal ini kita adaptasi bersama lingkungan, dibarengi terus berjuang menuju kehidupan yang lebih baik dalam keseharian.

Sedangkan keutamaan intelektual adalah kemampuan untuk akal, yang menurut Aristoteles adalah sifat kita sebagai manusia adalah untuk berpikir.

Masih bingung?

Saya juga .. 🙂

*Terinspirasi oleh Buku Plato and a Platypus Walk Into a Bar
Advertisements

Leave a reply please ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s