Kisah Pagi Februari di Kota Pelajar

Adi, demikian nama yang ia gunakan. Lahir dari keluarga nelayan miskin di daerah pesisir Desa Sambelia sekitar 85 kilo meter dari Kota Mataram Lombok. Bocah nelayan yang sempat bersekolah di sebuah madrasah ini, kini merantau belajar di sebuah perguruan tinggi negeri agama di Kota Yogyakarta. Untuk menetap di kota pelajar, menjadi Takmir masjid adalah aktifitas kesehariannya selain menjadi mahasiswa.

“Masih libur ya Le?” Sahut seorang wanita tua sambil mengatur botol-botol jamunya.

“Inggih Bunda sak iki masih Februari, masuknya Maret.” Adi menimpali.

Adi memiliki seorang tetangga wanita tua yang melakoni hidupnya sejak krisis Continue reading

Kanaq Solah

Wayah…

Oh inaq oh amaq
Tiang niki…
Mele jari kanaq solah
Brembe entan tiang
Jari kanaq solah

Wayah…

Endaraq lain
Apa saq araq niki…
Continue reading

Dua Wadah satu Pembersih Satu Isi : Perjalanan Pulang

Waktu berputar tanpa pernah berkompromi dan perjalanan pun berlanjut. Di pertengahan bulan Januari aku pamit dari kota pelajar, kota budaya, yah kota istimewa namun aku lebih menyebutnya sebagai kota kenangan sekaligus masa depan, yang penuh akan kenangan yang masih akan berlanjut entah sampai kapan. Aku bangga bisa belajar di sana dan merasakan banyak hal. Aku pulang ke kampung kecil tempatku dilahirkan dan dibesarkan 22 tahun lalu, berharap masih bisa melihat senyum mereka yang cukup lama tidak ku lihat. Terutama kedua malaikat berwujud manusia yang memiliki kekuatan tuhan dengan asupan cinta yang tiada habisnya dengan penuh kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas mencintaiku apa adanya sedari kecil, yang tidak lain adalah kedua orangtuaku. Betapa bahagianya aku bila mampu membuat mereka tersenyum bangga dengan usaha yang aku lakukan.

Sebelum ke tanah kelahiran, aku mampir di Kota Pahlawan untuk berusaha mencari sepasang malaikat lagi, mereka yang pernah mendidikku dulu sewaktu kecil dan pernah tinggal bersama keluarga sederhana kami. Jauh sebelum aku tiba dengan bersahajanya mereka tetap menantiku, yeah mereka adalah om dan tante ku. Walaupun kini mereka tinggal di daerah berbeda karena pekerjaan Continue reading

Sejenak Pesonamu : Sahabat dan Rinjani

“Tidak ada yang cukup membahagiakan selain mengetahui para sahabat kita tetap baik dengan segala kondisi dimanapun mereka berada dan tidak ada yang cukup aneh memang, tapi perasaan bertemu sahabat setelah waktu yang begitu lama benar-benar sangat berbeda.”

      Enam tahun menurut saya waktu yang cukup lama. Tentunya banyak momen yang diantara kita pernah lalui baik sendiri maupun bersama orang lain, nah kali ini saya merasakan hal tersebut. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu beberapa sahabat saya dari kalangan Siswa Pecinta Alam saat masih menempuh SMA dulu. Walaupun sekolah dan organisasi kami berbeda namun sering bertemu di forum pembina organisasi tersebut tingkat kabupaten, hehe sederhana tapi berkesan memang, mereka adalah Daton, Cma, Dicky, Embel, Ewi, dan yang terakhir Yuzzy. Setelah hampir enam tahun sejak pertengahan 2006 berpisah, kami bertemu di salah satu media komunikasi yang jadi trend saat ini yah jejaring sosial itulah namanya hehe. Bagi saya tidak ada yang cukup membahagiakan selain mengetahui para sahabat kita tetap baik dengan segala kondisi dimanapun mereka berada dan tidak ada yang cukup aneh memang, tapi perasaan bertemu sahabat setelah waktu yang begitu lama benar-benar sangat berbeda.

    Berkomunikasi kembali dengan mereka membuat saya terhanyut sesaat ke masa lalu, terutama saat melalui beberapa momen bersama mereka, yah salah satunya saat bersama-sama menaklukkan puncak Gunung Rinjani (3.726 mdpl) pada pertengahan 2006. Gunung Rinjani terletak di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Taman nasional ini juga terdaftar di UNESCO sebagai taman geologi di Indonesia. Gunung Rinjani ini merupakan gunung berapi kedua tertinggi Continue reading

Timun Bengkok

Hello everyone, in this moment I want to introduce one of folklore from The Sasak Tribes that who live mainly in my Homeland, that’s was Lombok Island, it’s about family story and the title is Timun Bengkok. Timun was Sasaq Language and in English means cucumber, this is it :

Once upon time at near the forest lived a poor family. They were a father, mother and two daughters. She was Timun Bengkok (the cucumber) and her sister. She had a step mother. One day her father looked for fire wood in the huge forest.

Her sister was starving at home and her step mother didn’t care of them. When her father went home, he always found that her daughter cried because of being hunger.

‘Why were our daughters crying’, he asked. ‘I didn’t know’ answered his wife. I feed them the meal, but they don’t like. ‘You could cook the rice Continue reading